Ketua TP-PKK Butur Hadiri Syukuran Pesta Panen (RAMPU'A) Desa Kadacua

  • Oct 10, 2025
  • Diskominfosandi Kab.Buton Utara

Buranga, Infokom News- Dalam rangka mendukung keberlanjutan warisan leluhur serta mempererat silaturahmi dan solidaritas masyarakat, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Buton Utara (Butur), Suhaemi Sudia Afirudin, S.Pd., menghadiri syukuran Pesta Panen (RAMPU'A) Desa Kadacua Kecamatan Kulisusu Kabupaten Butur, Kamis (9/10/2025). 

Harapannya, melalui Syukuran pesta panen Rampu'a, hasil panen masyarakat makin melimpah serta dijauhkan dari musibah dan marabahaya. 

Apa yang menjadi capaian keberhasilan masyarakat karena ada upaya semua elemen masyarakat dan sinergi dengan pemerintah.

Oleh karena itu, semua elemen masyarakat untuk tidak berhenti bersyukur, sekecil apapun karunia Tuhan yang diperoleh harus tetap kita syukuri. 

Rampu'a ini diyakini oleh masyarakat setempat sebagai bentuk manifestasi dari rasa syukur terhadap karunia Tuhan yang dilimpahkan dari alam semesta. Sebab, sekecil apapun rezeki dan karunia Tuhan harus disyukuri, sebagaimana masyarakat lokal menyebutnya dengan tradisi perampu’a.

Selain itu, tradisi perampu'a juga sebagai sarana perlindungan dari balaa (bencana) baik dari wabah penyakit ataupun musibah gagal panen, serta sebagai media silaturahmi bagi warga lokal Desa, maupun dengan masyarakat sekitarnya.

Pada umumnya, Perampu’a ini, dilakukan oleh masyarakat pesisir laut, seperti Linsowu, Kulisusu bagian selatan, Banu-banua Jaya dan Koepisino di Kecamatan Bonegunu.

Setelah acara ritual selesai, yang ditandai dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh imam desa atau tokoh agama, selanjutnya warga desa membagikan makanan yang sudah disiapkan kepada warga sekitar yang hadir tanpa terkecuali dan memakan makanan yang sudah disiapkan.

Untuk diketahui, Rampu itu sendiri terbuat dari olahan tradisional yang berbahankan ubi-ubian, biasanya dari jenis ketela dan singkong, diolah dengan cara diparut, lalu dicampur dengan kelapa parut dan bawang merah. Lalu diaduk-aduk agar semua bahan benar-benar menyatu.

Ketika semua bahan-bahan telah bersatu padu, barulah dibungkus dengan daun pisang. Usai dibungkus, siap dimatangkan. Prosesnya bukan dimasak atau dikukus, melainkan dimatangkan dari tumpukan bara, atau dengan cara dibakar dalam galian tanah terbuka.

Rampu yang telah matang disiapkan dalam wadah dulang untuk selanjutnya diantarkan pada tanah lapang yang sudah disiapkan sebagai arena perampu’a. Di sana, sudah banyak sekali sajian dulang terkumpul.

Siapa pun bisa berkunjung di tradisi Perampu’a. Tak hanya masyarakat desa setempat, ada juga tamu undangan yang hadir. Baik dari unsur pemerintah, maupun masyarakat luar desa pun bisa berkunjung. 

(MC Kabupaten Buton Utara, Kontributor Hamsil)